KESEPAKATAN AKSI ALPHA

Ayo Ikut Berpartisipasi Dalam ALPHA!

SOSIALISASI HERO

HIV AIDS, End Right Now!

TEMU RIANG ANGGOTA FAD BULELENG

Temu Riang Anggota FAD Buleleng Kedua yang dihadiri oleh badan pengawas, anggota aktif FAD Buleleng, dan anak-anak kurang mampu di wilayah Panji.

PEMILIHAN DUTA ANAK DAN SIDANG ANAK KAB. BULELENG 2018

Lima Duta Anak Kab. Buleleng 2018.

LITERASI ALPHA

Awareness Let People Help Autism

Sabtu, 22 April 2017

Cara Bergabung dengan Forum Anak Daerah Kabupaten Buleleng

      Keanggotaan FAD Kabupaten Buleleng sudah diatur dalam ART FAD Buleleng dalam pasal 22. Anggota FAD Bleleng adalah peserta Sidang Anak Buleleng dan/atau orang lain yang layak dan bersedia serta memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota FAD dengan persetujuan seluruh Pengurus dan Dewan Pembina. 

Syarat khusus untuk menjadi anggota FAD Kabupaten Buleleng adalah sebagai berikut : 
a. Anak secara hukum, atau seseorang yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun 
b. Berdomisili dan/atau bersekolah di wilayah Kabupaten Buleleng 
c. Diamati berkelakuan baik, serta tidak melanggar norma-norma masyarakat dan hukum 
d. Bersedia aktif dalam organisasi Forum Anak Daerah Kabupaten Buleleng 
e. Tidak terlibat dalam organisasi politik dan/atau organisasi terlarang 
f. Mengisi formulir registrasi

     Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana diadakannya PRIKSUS (Perekrutan Istimewa dan Khusus), perekrutan anggota mulai tahun ini hanya dilakukan dengan mengikuti PDA (Pemilihan Duta Anak) Kabupaten Buleleng yang diadakan sekali setiap tahunnya. Jadi, untuk teman-teman yang ingin menjadi keluarga besar FAD Buleleng, persiapkan diri kalian untuk mengikuti PDA Kabupaten Buleleng yaaa!

Sabtu, 08 April 2017

Nyepi Tahun Baru Caka 1939, Sang Belati Bermata Ganda Bagi Anak


Nyepi merupakan hari raya besar agama Hindu khususnya umat beragama Hindu di Bali. Nyepi berasal dari urat kata “sepi” yang artinya sunyi, yang berarti tidak ada aktivitas yang dilakukan masyarakat. Pelaksanaan nyepi dijadikan jalan penyucian dan penyeimbang unsur-unsur alam baik Bhuana Agung maupun Bhuana Alit, menurut kepercayaan agama Hindu. Umat beragama Hindu memohon kepada Yang Kuasa agar mendapatkan penyucian dan ketentraman hidup. Unsur-unsur yang telah diseimbangkan diharapkan bisa mencapai tujuan Tri Hita Karana. Tri Hita Karana memiliki makna tiga penyebab kebahagiaan umat manusia.  Tri Hita Karana dibagi menjadi tiga bagian penting antara lain palemahan, pawongan, dan parahyangan. Palemahan berarti hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam (baik yang nyata maupun yang kasat mata), pawongan berarti hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan parahyangan artinya hubungan yang baik antara manusia dengan Sang Pencipta.
Beberapa hari sebelum hari raya Nyepi, dilaksanakan upakara Melasti yang mana dilakukannya pengarakan sarana sembahyang di pura-pura ke sumber air terdekat, seperti laut maupun danau dan melakukan persembahyangan guna memohon penyucian diri manusia dan alam. Upacara ini biasanya dilakukan serempak satu desa. Sehari sebelum Nyepi disebut sebagai Pangrupukan. Pada hari tersebut dilaksanakan upacara Pecaruanbaik pecaruan agung maupun pecaruan alit di desa, banjar, hingga rumah penduduk. Dalam pecaruan, dipersembahkan sesajen untuk para Butha agar tidak mengganggu manusia. Selain itu, masyarakat Bali tentu akan menyemarakkan pangrupukan dengan pawai Ogoh-ogoh sebagai simbul Butha yang akan dilebur pengaruh buruknya. Butha yang dimaksud tidak hanya makhluk tak kasat mata, melainkan juga ego manusia. Pada puncaknya hari raya Nyepi, umat beragama Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja/beraktivitas), amati lelungaan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati keduniawian). Sehari setelah Nyepi, dilaksanakan Ngembak Geni melalui kegiatan maaf-memaafkan antar sanak keluarga dan masyarakat.
Beberapa hari yang lalu, umat beragama Hindu telah melewati hari raya Nyepi Tahun Baru Caka 1939 yang menjadi awal tahun bagi umat beragama Hindu. Pelaksanaanya tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan nyepi di tahun-tahun sebelumnya. Perayaan hari raya Nyepi inilah yang masih saja menjadi Sang Belati Bermata Ganda bagi anak-anak, salah satunya di Kabupaten Buleleng. Disebut demikian karena cara menyikapi perayaan hari raya inilah yang menentukan apakah Nyepi yang sebenaranya hari raya yang suci, akan memberikan dampak positif atau justru sebaliknya.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, masyarakat sangat antusias melaksanakan upakara-upakara sebelum penyepian. Pada saat sebelum Melasti, berbondong-bondong masyarakat berias dan bersiap, begitu pula anak-anak. Perayaan saat pangrupukan juga tidak kalah semarak. Anak-anak sangat bersemangat memainkan bunyi-bunyian saat pecaruan berlangsung. Semua upakara berjalan baik dan lancar.
Perayaan utama saat pangrupukan adalah pawai Ogoh-ogoh. Dikutip dari @info_singaraja, tidak hanya remaja dan orang dewasa, anak-anak juga sangat antusias dalam pawai ogoh-ogoh. Bahkan mereka ikut serta dalam pembuatan ogoh-ogoh dan penampilan pawainya. Anak-anak diberikan kesempatan menuangkan ide-ide kreatifnya untuk membuat ogoh-ogoh serta memperlihatkan kemampuannya dalam bidang tari bali maupun megamel (memainkan gong). Tidak jarang anak-anak dan para remaja mengunggah aktivitasnya yang ikut serta dalam persiapan hingga pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Unggahan foto dan vidio tersebut memperlihatkan bagaimana anak-anak ikut ambil bagian dalam masyarakat sebagai wujud penghargaan terhadap peran anak dalam perayaan Nyepi.
Namun di balik itu semua, ada hal yang sangat disayangkan terjadi dalam perayaan Nyepi. Seperti kerusuhan yang terjadi di Banjar Dauh Peken, Desa Bungkulan. Kerusuhan terjadi akibat perseteruan antara dua belah pihak pengarak ogoh-ogoh seusai pawai. Beberapa dari mereka masih tergolong usia anak.Hal yang sama juga terjadi di Desa Kubutambahan.
Tidak seharusnya terjadi pula, pada hari puncak pelaksanaan Nyepi, masih ada anak-anak yang menggunakan gadget untuk alasan-alasan tertentu, padahal sudah diberikan himbauan serta aturan tegas dari pemerintah kabupaten terkait larangan penggunaan gadget dalam pelaksanaan Nyepi. Tidak diperbolehkannya penggunaan gadget saat penyepian, tidak lain karena melanggar Amati Geni dan Amati Lelanguan dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Saat menggunakan gadget, akan timbul panas dari gadget itu sendiri yang sangat bertentangan dengan Amati Geni. Begitu pula dengan Amati Lelanguan karena penggunaan gadget saat pelaksanaan Nyepi tidak lain untuk menghilangkan kebosanan sehingga dianggap sebagai kegiatan menghibur diri. Hal ini yang sangat dipertegas dalam artikel kali ini agar mulai dibiasakan untuk tidak menggunakan gadget saat Nyepi berlangsung.
Di sisi lain, ada juga anak-anak yang masih bermain di jalanan saat Nyepi dari pagi hingga sore hari. Mereka asyik bermain sepeda dan berlari-larian. Mereka juga menyalakan mercon dan kembang api yang sebenarnya sangat berbahaya. Suara kendaraan bermotor juga masih saja terdengar di beberapa desa akibat aktivitas remaja. Pada akhirnya, Catur Brata Penyepian tidak sepenuhnya dilaksanakan.
Beberapa kalangan masyarakat sering menganggap hal-hal yang tidak sesuai dalam perayaan Nyepi di atas sebagai suatu kewajaran di usia anak. Utamanya dari segi penggunaan gadget. Mereka tidak menganggpannya serius karena anak-anak dianggap belum banyak mengerti tentang pelaksanaan Nyepi sesungguhnya, yang nanti ketika dewasa mereka akan mengerti sendiri secara otomatis. Namun, jika terus dibiarkan dari usia anak, maka akan terbiasa dan membudaya dan  pelaksanakan Catur Brata Penyepian tidak akan diterapkan dengan baik. Justru pelaksanaan yang benar sejak dini yang akan mengubah tata cara pelaksanaan Nyepi yang salah sesegera mungkin.
Nyepi Tahun Baru Caka 1939 memang menjadi Belati Bermata Ganda bagi anak-anak, khususnya di Kabupaten Buleleng. Nyepi yang seharusnya menjadi cara membersihkan dunia, justru tidak dimaknai dengan baik, membentuk kebiasaan buruk, bahkan menuai bahaya bagi anak-anak itu sendiri.
Kesadaran dini sangat diperlukan untuk bisa memahami arti Nyepi sesungguhnya. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Sosialisasi langsung ke desa-desa akan sangat membantu menegaskan pelaksanaan Nyepi yang benar, dibandingkan hanya melalui media massa. Para orang tua harus diberikan pemahaman bahwa anak-anak juga harus ikut melaksanakan Catur Brata Penyepian tanpa terkecuali. Para tokoh agama juga memiliki peran yang sangat penting. Mereka harus mampu menjadi contoh langsung pelaksana hari raya Nyepi yang benar. Aparat yang bertugas menjaga ketertiban saat sebelum Nyepi maupun saat Nyepi berlangsung harus bertindak tegas, bukannya ikut melanggar. Seperti misalnya menggunakan kendaraan bermotor saat memantau pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang kerap terjadi di desa-desa tertentu. Jika perayaan Nyepi dan pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang benar tidak dimulai dari orang dewasa, maka anak-anak tidak akan mampu melaksanakannya dengan benar pula. Anak-anak akan selalu mencontoh apa yang terjadi di sekitar mereka.
Untuk itulah, sangat diharapkan antara pemerintah dan masyarakat untuk saling merangkul, menjadi pelaksana Nyepi yang lebih baik di tahun berikutnya agarmenjadi contoh para generasi muda.
Semoga Nyepi Tahun Caka 1940 tidak lagi menjadi Belati Bermata Ganda bagi anak-anak di Kabupaten Buleleng.

Mari awali tahun agama Hindu dengan hal-hal positif....!!!


Referensi:
Wikipedia Indonesia
@info_singaraja

Senin, 06 Maret 2017

HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PEMILIHAN DUTA ANAK BULELENG 2017


HASIL SELEKSI OFFLINE DAN ONLINE CALON DUTA ANAK KABUPATEN BULELENG





NO NAMA PESERTA ASAL SEKOLAH NILAI PERINGKAT
1 Dewa Made Hary Bastila SMA Negeri 1 Singaraja 74 25
2 Gede Agus Wira Tanaya SMA N 1 Singaraja 83 6
3 Gede Ananda SMA Negeri 1 Singaraja 72 38
4 Gede Dharmayasa SMK Negeri Bali Mandara 77 19
5 Gede Esa Agra Sumerta SMK Negeri 3 Singaraja 75 26
6 Gede Wahyu Suryadiningrat SMA Negeri 4 Singaraja 81 9
7 Gilang Aditya Oka Pratama SMP Negeri 6 Singaraja 73 34
8 I Kadek Agus Andita SMA Negeri 3 Singaraja 77 20
9 I Putu Raditya Kameswara SMA Negeri 1 Singaraja 84 3
10 Ida Ayu Shanti Pinandita Erawan SMP Negeri 1 Singaraja 85 2
11 Ida Bagus Eko Santosa SMA Negeri 4 Singaraja 80 15
12 Kadek Andy Juni Kurniadi SMA Negeri 3 Singaraja 80 10
13 Kadek Bunga Arta Yani SMK Negeri 1 Singaraja 73 35
14 Kadek Feni Wulandari SMK Negeri 1 Singaraja 74 27
15 Kadek Losinanda prawira SMP Negeri 1 Singaraja 74 28
16 Kadek Rika Puspita SMK Negeri 1 Singaraja 80 11
17 Kadek Tinggen Masari SMK Negeri Bali Mandara 82 8
18 Ketut Dita Ari Sutrisna SMP Negeri 1 Singaraja 83 7
19 Ketut Mega Gayatri SMP Negeri 5 Singaraja 78 16
20 Luh Eka Puspitawati SMK Negeri Bali Mandara 76 22
21 Luh Lindayani SMA Negeri 3 Singaraja 79 13
22 Luh Melly Astari SMK Negeri 2 Singaraja 74 29
23 Luh Serlina Padma Dewi SMK Negeri Bali Mandara 84 4
24 Made Amara Sanjiwaning Sukma SMP Negeri 6 Singaraja 78 17
25 Made Mutiara Putri Utami SMA LAB UNDIKSA 80 12
26 Made Ramadita Wira Darmawan SMA Negeri 2 Singaraja 73 36
27 Made Wulan Virgioni Putri SMP Negeri 2 Tejakula 74 30
28 Ni Kadek Dwi Cahyati SMA N Bali Mandara 73 37
29 Ni Kadek Indra Aprilia Bonita SMA Negeri 1 Singaraja 76 23
30 Ni Ketut Candra Puspita SMA Negeri Bali Mandara 77 21
31 Ni Ketut Uda Sri Udiani SMA Negeri 4 Singaraja 74 31
32 Ni Made Dwi Wahyuni SMA Negeri 4 Singaraja 81 18
33 Ni Made Swandewi Saraswati SMA Negeri 4 Singaraja 72 39
34 Ni Made Yukta Iswari SMA Negeri 1 Singaraja 93 1
35 Ni Putu Asita Narayani SMP Negeri 4 Singaraja 74 32
36 Putu Sukma Dewi SMK Negeri 1 Singaraja 72 40
37 Niken Mayuni Putri SMP Negeri 1 Singaraja 75 24
38 Putu Dinda Pradnya Rahayu SMK Negeri Bali Mandara 79 14
39 Putu Novita Sari  SMK Negeri Bali Mandara 84 5
40 Putu Puspa Widyanti SD N 5 PENARUKAN 74 33
41 Ni Putu Narithya Julieta SMA Negeri 1 Singaraja 71 41
42 Ida Ayu Made Tiara Astarina SMA Negeri 4 Singaraja 71 42
43 Kadek Putra Yasa SMK Negeri Bali Mandara 71 43





44 NI KOMANG ARIS STIANINGSIH SMA Negeri Bali Mandara 71 44
45 Wayan Gede Ananta Brahmanda SMA LAB UNDIKSA 71 45
46 Ketut Bramasta Adimaja SMA Negeri 1 Singaraja 70 46
47 Made Krisna Mahendra SMK Negeri 3 Singaraja 70 47
48 I Kadek Andi Anjastana SMA Negeri Bali Mandara 69 48
49 Ida Ayu Komang Trisna Dewi SMP Negeri 2 Singaraja 69 49
50 Kadek Ayu Budiartini SMK Negeri 1 Singaraja 69 50
51 Ketut Gede Agus Saputra SMP Negeri 5 Singaraja 69 51
52 Luh Putu Oktavia Agustin  SMP N 2 KUBUTAMBAHAN 69 52
53 Kadek Prima Hariyasa SMP Negeri 2 Kubutambahan 68 53
54 Kadek Wivra Sanata Yumika SMP LAB UNDIKSA 68 54
55 Ni Luh Putu Liyana Andriyani SMA Negeri 3 Singaraja 68 55
56 Ni komang ary dharma pertiwi SMP Negeri 2 Singaraja 67 56
57 Ayu Amara Pradnyanitha SMA N 1 Singaraja 66 57
58 Gede Bayu Sena Jelada Putra SD Negeri 5 Penarukan 66 58
59 I Gusti Ayu Paramitha Putri Utami Santosa SMP Negeri 1 Singaraja 66 59
60 Komang Citra Pratiwi SMP Negeri 1 Banjar 66 60
61 Luh Putu Ade Ika Surya Dharma Putri SMA Negeri Bali Mandara 66 61
62 Ni made Ayu laksmi dewi SMP Negeri 6 Singaraja 66 62
63 Putu Gede Anggga Wiliana P SMP Negeri 6 Singaraja 65 63
64 Ni Made Meilina Puspita SMA Negeri 4 Singaraja 64 64
65 Ida Ayu Indah Trisnawati SMA Negeri 3 Singaraja 63 65
66 Ketut Agus Sanjaya SMP Negeri 1 Singaraja 63 66
67 Komang Surya Kusuma SMP Negeri 1 Singaraja 63 67
68 Putu Mita Dea Ananda SMK Negeri 3 Singaraja 63 68
69 Widya Krisna Yunita SMK Negeri 3 Singaraja 63 69
70 Gede Raditya Manohara SMP Negeri 4 Singaraja 62 70
71 I Dewa Ayu Wacik Yuniari SMA Negeri 1 Singaraja 62 71
72 Ni Nyoman Trisya Indah Cahyani SMP Negeri 2 Tejakula 62 72
73 Made Supriadi SMP Negeri 1 Banjar 61 73
74 Kadek Ade Almania Riski SMA Negeri 3 Singaraja 60 74
75 Kadek Merita SMP Negeri 1 Banjar 60 75
76 Kadek Ari Awatara Virsa SMK Negeri 3 Singaraja 59 76
77 Made Sri Surya Tina SD Negeri 1 Kalibukbuk 59 77
78 NI MADE AYU YUDIARIANI SMA Negeri 3 Banjar 59 78
79 NI KADEK PUTRI MAS SINTA DEWI - 58 79
80 Kadek Apriliani SMP Negeri 1 Banjar 57 80
81 i komang gangga putra hartawan SMP Laboratorium Undiksha Singaraja 56 81
82 Michael Son Latupapua SMA Negeri 3 Singaraja 50 82
83 KOMANG WIJAYA PUTRA SMA Negeri 4 Singaraja 47 83
84 Kadek pande dwitya putra SMP Negeri 6 Singaraja 46 84
85 Putu ayu dharma prakas mahardani SMP Negeri 2 Tejakula 45 85
86 Ketut Gede Adi Putra Laksana SMP Negeri 1 Singaraja 39 86
87 Wayan Ditalistya Dewi SMP Negeri 6 Singaraja 36 87
88 Ni Putu Dian Wahyuni SMK Negeri Bali Mandara 88






 Peserta yang dinyatakan lolos adalah peserta dengan nomor 1-40.


Finalis berhak mengikuti PEMILIHAN DUTA ANAK DAN SIDANG ANAK BULELENG TAHUN 2017

yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2017 bertempat di Gedung Laksmi Graha Singaraja.